Cancel Culture, Tidak Beda Jauh Dengan Praktek Bully

- Jumat, 24 Juni 2022 | 00:00 WIB
Ilustrasi sumber youtube sosial media sebagai ajang pembullyian
Ilustrasi sumber youtube sosial media sebagai ajang pembullyian

LAROS MEDIA – Terjadinya Sebuah skandal seorang selebritis atau influencers yang dianggap masyarakat adalah sesuatu yang harus ditentang kehadirannya di kemudian hari merupakan salah satu contoh atau praktek Cancel Culture.

Banyak anak muda atau netizen Indonesia menggunakan budaya ini. Padahal perbuatan tersebut tidak ada bedanya dengan pembully dan perundung.  

Cancel Culture berasal dari tulisan artikel untuk media Vox, Aja Romano, Kalimat “ Cancelling” berasal dari candaan misoginis dari film berjudul New Jack City yang rilis pada tahun 1991. Dalam film tersebut ada adegan tokoh nino mengatakan “Cancel that b****, I’ll buy another one“. Kepada pacarnya setelah Nino membuatnya menangis dikarenakan kekerasan yang dilakukan.

Baca Juga: Kisah Cinta Tak Sampai Ratu Wilhelmina Pada Sultan Siak Syarif Kasim II Karena Beda Agama

Pada tahun 2010, rapper Lil Wayne memasukkan referensi adegan film tersebut ke dalam lirik lagunya yang berjudul dingle “Yeah, I’m single / n***a had cancel that bitch like Nino

Kemudian menjadi populer di reality show berjudul Love and Hip-Hop  yang tayang 2014. Semenjak itu kata tersebut sering digunakan oleh orang kulit hitam di twitter.

Arti cancel culture sendiri terus mengalami pergeseran setiap tahunya. Di dictionary.com, cancel culture dapat diartikan menjadi 

“menarik (mengenyahkan) dukungan untuk figure public dan perusahaan setelah mereka melakukan atau mengatakan sesuatu yang dianggap tidak pantas atau menyinggung”

Banyak figur-figur terkenal yang dikritik habis oleh publik dan media mengenai kesalahan yang dilakukannya. Namun, sekarang orang yang hanya menyampaikan opini pribadi yang kebetulan menentang kepercayaan dari mayoritas juga dianggap salah dan mendapat cancel culture.

Halaman:

Editor: Rezki Putri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X